Mulai Berbagi Pekerjaan Rumah Bersama Yuk!

Melihat lagi pengalaman kita sedari kecil, tentu kebanyakan dari kita ingat bahwa para ibu sibuk dengan urusan rumah tangga (seperti mencuci, menyiapkan makanan, memandikan anak dll); sementara para ayah sibuk dengan urusan luar rumah (bekerja, bersosialisasi, menghadiri rapat RT dll). Nampaknya, kini peran itu tidak terlalu banyak berubah, meskipun saat ini kesadaran untuk melibatkan laki-laki dalam peran domestik sudah lebih terlihat.

Pembagian peran seperti di atas ternyata turut mendorong para orangtua untuk “mengajarkan” bagaimana anak laki-laki dan perempuan seharusnya berperilaku. Sadar atau tak sadar, sengaja atau tak sengaja, kita kerap melihat anak perempuan lebih terlibat dalam urusan domestik ketimbang anak laki-laki.

 Penelitian terkini (2016) yang dilakukan oleh UNICEF menunjukkan bahwa anak perempuan masih melakukan lebih banyak pekerjaan rumah tangga ketimbang anak laki-laki. Anak perempuan usia 5-9 tahun menghabiskan sekitar 4 jam per minggu untuk pekerjaan rumah tangga; dan anak perempuan usia 10-14 tahun menghabiskan sekitar 9 jam untuk pekerjaan rumah tangga. Bahkan di beberapa wilayah dunia (seperti Afrika), angka ini berjumlah dua kali lipatnya.

Sementara anak perempuan membantu urusan rumah tangga, anak laki-laki biasanya bermain atau melakukan aktivitas rekreasional lainnya. Pada beberapa praktik, sekalipun anak laki-laki membantu urusan rumah tangga, mereka biasanya mendapatkan bayaran (Covert, 2014). Anak perempuan? Mereka tidak dibayar untuk tugas serupa.

Apa dampaknya?

Praktik atau kebiasaan tersebut tentunya memiliki sejumlah dampak. Dampak pertama tentu adanya stereotipe gender yang semakin kuat dalam hal peran domestik untuk perempuan dan peran publik untuk laki-laki. Dari generasi ke generasi kita terus mewarisi praktik ini, terutama karena anak perempuan cenderung mencontoh ibu sementara anak laki-laki mencontoh ayah.

Dampak lebih lanjut, dalam dunia kerja pun, perempuan kemudian menemui dampak yang kurang mengenakkan. Sebut saja dalam hal gaji dan pangkat/jabatan. Karena ada anggapan bahwa ranah publik adalah urusan laki-laki, bila ada perempuan ikut serta biasanya sering dianggap sebagai “tim hore” saja. Akibatnya, penghargaan yang diterima oleh perempuan cenderung lebih rendah ketimbang laki-laki di posisi yang sama.

Masih banyak dampak lain yang ditimbulkan. Bila sekilas dilihat, tampaknya dampak tersebut cenderung merugikan perempuan. Benar nggak sih? Apakah ada dampak baik bagi anak laki-laki yang terlibat dalam peran domestik? Ternyata, mendorong anak laki-laki melakukan peran domestik memiliki banyak keuntungan, antara lain:

  1. Mengajarkan tanggungjawab

Dengan meminta mereka untuk merapikan mainan sendiri, membawa piring sendiri ke dapur setelah makan, atau meminta mereka melipat pakaian sendiri ternyata bisa memupuk rasa tanggungjawab. Anak laki-laki pun turut mengembangkan rasa memiliki atas hal-hal yang ada di rumah, Tentu saja hal ini akan terbawa hingga si anak menjadi laki-laki dewasa.

  • Mendukung performa akademis

Pada usia sekolah (SD), kita melihat performa akademis anak perempuan cenderung lebih baik. Mengapa? Salah satunya karena anak perempuan belajar untuk mengambil tanggungjawab sejak di rumah. Dengan latihan bertanggungjawab atas hal-hal kecil di dalam rumah, anak laki-laki pun bisa menjadi lebih berdaya dan mampu melihat tuntutan/tugas untuk dirinya. Begitupula di sekolah. Dengan terbiasa mengambil tanggungjawab terhadap beberapa hal di rumah, mereka terlatih untuk memiliki kesadaran dalam mengerjakan PR, tugas di sekolah, dll.

  • Mengembangkan empati dan kepekaan sosial

Mengajak anak laki-laki berkontribusi bagi pekerjaan domestik turut mendukung perkembangan empati dan kepekaan sosial mereka lho Mereka bisa belajar untuk saling membantu dan bekerjasama untuk menciptakan lingkungan yang nyaman bagi seluruh anggota keluarga. Tentu saja hal ini dilakukan tanpa perlu membeda-bedakan jenis tugasnya.

Bagaimana caranya?

Sekarang memang sudah banyak laki-laki yang terlibat dalam tugas domestik, tapi masih butuh partisipasi yang lebih banyak. Sulit sih, apa lagi banyak tantangan seperti iklan-iklan yang bias gender, ilustrasi pada film, peraturan yang belum mendukung hingga kebiasaan dalam lingkungan terdekat sendiri. Lalu, bagaimana cara memulainya? Beberapa hal yang bisa kita lakukan antara lain:

  1. Ajak anak-anak (terutama anak laki-laki) terlibat dalam tugas-tugas rumah tangga

Mereka bisa diminta untuk merapikan mainan sendiri, membersihkan air yang mereka tumpahkan, mengelap meja sehabis makan, dll. Tentunya kerumitan tugas yang diberikan juga harus disesuaikan dengan usia dan tahap perkembangan mereka. Ayah dapat menjadi contoh dengan menunjukkan keterlibatannya terlebih dahulu.

  • Ubah mindset (cara pikir)

Kadang para perempuan juga “belajar” untuk berpikir bahwa ranah domestik adalah keahlian mereka, sehingga tidak memandang laki-laki sebagai pihak yang kompeten untuk melakukan tugas-tugas tsb. Nah, mulailah dengan membiarkan (anak) laki-laki melakukan tugas-tugas domestik tanpa tuntutan atau ekspektasi terlalu tinggi. Beri kesempatan, dan diskusikan pula jika mengalami kesulitan.

  • Hargai, hargai, hargai

Karena tidak terbiasa dengan peran domestik, terkadang (anak) laki-laki tidak “sempurna” dalam melakukannya. Mengepel kotor sedikit, itu wajar. Memasak tetapi dapur menjadi lebih kotor, itu juga bisa dibicarakan. Intinya, setiap ada upaya untuk terlibat dalam peran domestik atau mengambil tanggungjawab itu, kita perlu apresiasi usahanya. Ketimbang mengatakan, “haduuh, kamu kalau nyuci pasti gak bisa bersih. Sini aku aja!”; lebih baik memberitahu baik-baik apa yang bisa dilakukan. Atau mungkin, dia memang punya caranya sendiri!

Beberapa bahan bacaan untuk tulisan ini:

Covert, Bryce. 2014. Why It Matters That Women Do Most of the Housework. Dari: https://www.thenation.com/article/why-it-matters-women-do-most-housework/

Mushimiyimana, D. 2018. Parenting: Why your boys should help out with household chores. The New Times Publication. dari: https://www.newtimes.co.rw/lifestyle/parenting-why-your-boys-should-help-out-household-chores

UNICEF. 2016. Harnessing the Power of Data for Girls: Taking Stock and Looking Ahead to 2030. NY: UNICEF

(Visited 4 times, 1 visits today)

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *