MRT Jakarta, Seberapa Efektif Urai Kemacetan?

OhGreat.id – Jakarta sebentar lagi akan menyambut moda transportasi baru. Proyek hasil kerjasama antara Pemprov DKI Jakarta dengan salah satu perusahaan kontraktor asal Jepang itu mengusung nama Mass Rapid Transit (MRT). Jika tidak kembali meleset dari target, maka warga ibu kota dan sekitarnya sudah bisa menikmati, setidaknya awal Mei tahun ini.

Sebagai awalan, warga Jakarta bisa menikmati layanan MRT Tahap I yang terbentang dari Lebak Bulus hingga Hotel Indonesia. Efisiensi menjadi keunggulan yang dijanjikan di sini. Waktu tempuh antar dua titik tersebut diklaim tidak akan lebih dari 30 menit. Sesuatu yang dirasa mustahil dilakukan dengan menggunakan kendaraan beroda di waktu normal.

Mengurangi Konsentrasi Penumpang Darat
Selain kecepatan, MRT juga dipercaya bisa memecah konsentrasi angkutan umum di Jakarta. Dengan kata lain, moda transportasi ini bisa mengurangi jumlah penumpang di jalur darat sepanjang koridor.

Berangkat dari Lebak Bulus, jalur MRT melewati Jalan TB Simatupang menuju Fatmawati. Kemudian langsung mengarah ke Bundaran Hotel Indonesia melewati Cipete, Panglima Polim, Jalan Jenderal Sudirman, hingga berhenti di bawah tanah tak jauh dari Bundaran HI.

Tercatat ada sejumlah trayek angkutan umum yang melewati jalur tersebut. Untuk bus, setidaknya ada MetroMini S 610, MetroMini S 72, dan Kopaja S 605.  Untuk angkutan mobil kecil, ada KWK S01 jurusan Blok M – Pondok Labu. Belum lagi ratusan pengendara ojek online yang setiap hari lalu lalang.

Merangsang Geliat Angkutan Umum
Hadirnya MRT bisa menjadi solusi bagi warga yang terbiasa menikmati transportasi publik. Badan Pusat Statistik DKI Jakarta pernah merilis jumlah angkutan umum pada 2016 mengalami penurunan 2,08%.

Hal ini jelas menyulitkan warga yang mengandalkan transportasi publik untuk kegiatan harian. Dari data tersebut, mayoritas didominasi oleh bus yang sudah lama keberadaannya di Jakarta. Tercatat ada 16.728 bus, termasuk 910 armada Transjakarta.

Hingga Januari 2019, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan menyatakan ada penurunan jumlah penumpang angkutan umum dalam kota. Bahkan, jumlahnya tidak main-main dari 49% jadi 19%. Hal ini dikatakannya karena kurangnya kualitas layanan transportasi publik di ibu kota.

Namun, kehadiran MRT tampaknya bisa kembali mendongkrak angka pengguna transportasi umum di Jakarta. Pasalnya, dalam waktu dekat akan diterapkan integrasi antara layanan MRT dan LRT yang berada dalam naungan JakLingko.

Jak Lingko adalah program transportasi satu harga untuk satu kali perjalanan yang diluncurkan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta Per Maret 2019, Tribunnews merilis jumlah pengguna angkutan yang terintergrasi JakLingko naik dua kali lipat. Jumlah ini jadi yang tertinggi sejak diluncurkan dua tahun lalu dan penumpang yang dijaring bisa mencapai lebih dari 73 ribu orang per hari.

Hanya Sarana Alternatif
Hadirnya MRT harus diakui tidak serta merta membuat macet Jakarta berkurang. Keputusan untuk menggunakan tidaknya moda transportasi ini menjadi hak masing-masing warga ibu kota dan sekitarnya.

Faktanya, masih banyak masyarakat, terutama kalangan atas yang lebih memilih menggunakan transportasi milik pribadi. Alasannya beragam, mulai dari kenyamanan hingga privasi.

Soal seberapa efektif MRT dalam mengurangi kemacetan jelas ada di tangan masyarakat. Pemerintah pun tidak bisa mewajibkan warganya beralih dari kendaraan pribadi ke umum karena tidak ada ketetapan soal itu.

(Visited 3 times, 1 visits today)

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *