MH Thamrin dan Sepak Bola Sebagai Alat Kebangsaan

OhGreat.id – Berbicara tentang Mohammad Husni Thamrin, hal pertama yang muncul di benak adalah jalan utama yang membelah ibu kota. Ada alasannya wilayah yang kini disebut-sebut sebagai kawasan dengan harga tanah tertinggi di Indonesia itu, diberi nama demikian.

Husni Thamrin adalah seorang putra daerah Jakarta – Batavia pada waktu itu – yang punya peran tak kecil dalam peletakan pondasi kota. Reputasinya lebih dikenal sebagai anggota Volksraad atau Dewan Rakyat pada masa pemerintahan Hindia Belanda.

Namun, lebih dalam dari itu,  ia adalah seorang pejuang yang gigih memperjuangkan hak-hak warga pribumi. Terutama warga Batavia yang saat itu dihimpit oleh politik diskriminasi terapan pemerintahan kolonial Hindia Belanda.

Diskriminasi yang dirasakan mencakup berbagai aspek kehidupan mulai dari politik hingga sosial. Salah satunya tentu menyangkut ranah keolahragaan, yang jika lebih spesifik lagi, bicara soal sepak bola. Menurut penuturan sejarawan Jakarta, JJ Rizal, Thamrin punya peran besar di balik berdirinya Voetbalbond Indonesische Jacatra (VIJ), cikal bakal Persija Jakarta.

Bermula dari Kebakaran
Bermula dari kebakaran yang terjadi di wilayah Krekot Bunder, tak jauh dari Pasar Baru. Warga sekitar berinisiatif untuk mengadakan pertandingan amal sepak bola dan meminjam Lapangan Vios milik Belanda. Akan tetapi, ide tersebut tak direspon dengan baik oleh pemilik lapangan dan klub yang notabene adalah orang Belanda.

“Klub-klub sepak bola pribumi ini ingin membuat pertandingan amal tapi tidak punya lapangan. Mereka pinjam tapi surat peminjaman tak pernah mendapat balasan,” ucap JJ Rizal saat ditemui tim OhGreat di Balai Kota DKI Jakarta.

JJ Rizal menuturkan, pada saat itu di lapangan terpampang jelas tulisan verboden voor hondenen  irlander. Artinya, jika dialihkan ke Bahasa Indonesia, adalah larangan bagi pribumi dan anjing untuk masuk ke kawasan tersebut.

“Setelah ditolak, mereka marah dan mengadu ke Husni Thamrin,” lanjutnya. Sadar aspirasinya tak akan didengar oleh Dewan Rakyat, maka Thamrin merogoh kocek pribadi hingga puluhan ribu gulden. Hal itu dilakukan demi membangun sebuah lapangan bertaraf internasional pada masanya. Dipilihlah di kawasan Laan Triveli, yang kini terletak di Jalan Biak, Cideng, Jakarta Pusat.

Sepak Bola Sebagai Arsenal Politik
Sejak awal kemunculannya, sepak bola sudah menjadi alat untuk membangkitkan semangat kebangsaan. Keputusan klub-klub lokal Batavia untuk mengadu ke Husni Thamrin soal lapangan dinilai tepat.

Pasalnya, Thamrin berada di lingkaran terdekat soal komunikasi dengan pihak kolonial. Kesibukannnya sebagai anggota Dewan Rakyat lebih memungkinkan untuk menyampaikan aspirasi kepada pemerintahan Hindia Belanda. Terutama soal perhatian terhadap kaum pribumi.

“Apakah klub sepak bola pribumi pada saat itu menjadi oposisi dari klub sepak bola Belanda, itu pasti. Sudah jelas, karena unsurnya politik, pada saat itu di lapangan-lapangan sepak bola milik Belanda tertulis pribumi dan anjing dilarang masuk. Artinya mereka tidak dianggap sebagai manusia,” kata JJ Rizal.

“Sejak saat itulah mereka dijadikan dari gerakan kebangsaan karena dengan begitu, maka sepak bola kita akan dipulihkan harkat dan martabatnya. Dihargai prestasinya, sebagaimana seharusnya,” ucapnya.

Setelah Indonesia merdeka, pemerintah Indonesia juga melakukan sejumlah langkah politis di ranah sepak bola. Salah satunya adalah dengan memberikan lapangan Viosveld (Menteng) kepada Persija Jakarta. Tujuannya adalah sebagai simbol perlawanan terhadap segala unsur Belanda.

“Lapangan sepak bola Belanda, itu diubah kepemilikannya kepada klub sepak bola Bumiputera yang nasionalis yakni Persija. Itu bagian dari kebijakan Bung Karno yang mengubah wajah kota dari kawasan kolonial, menjadi kota nasional,” tutup JJ Rizal.

sumber gambar: jakartabytrain.com
video: OhGreat Media

(Visited 4 times, 1 visits today)

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *