Keindahan Harmonisasi Budaya dan Agama dari Pedalaman Indonesia

Syekh Siti Jenar mengatakan bahwa hidup beragama ialah menolak bertuhan kepada hawa nafsu. Artinya bertuhan kepada Allah SWT di Islam, Yesus Kristus di Kristen, dan lain sebagainya namun didasari dengan hawa nafsu berlebih bukanlah praktek keagaman yang tepat. Praktek mengumbar hawa nafsu dengan tameng nilai-nilai agama jadi fakta sosial yang begitu mengkhawatirkan saat ini.

Kekinian dengan asumsi untuk memurnikan kembali ajaran agama muncul gesekan sosial yang tak dapat dihindarkan. Akibat dari gesekan ini muncul rasa tidak nyaman di masyarakat. Padahal menurut Syekh Siti Jenar, agama pada hakekatnya mampu memberikan rasa nyaman dan ketenangan.

“Biarkan orang bekerja di humanya dengan tenang, biarkan orang saling tolong menolong sesuai kemampuannya dengan tenang, jangan ganggu orang yang melakukan ritual berdasarkan pemahamannya, jangan paksa orang menjalankan syariat yang terasa asing baginya” kata Syekh Siti Jenar yang dikutip dari buku Syekh Siti Jenar karangan Achmad Chodjim.

Pernyataan Syekh Siti Jenar ini mungkin bisa diperdebatkan maknanya namun secara garis besar, Siti Jenar menginginkan agar praktek kehidupan beragama tak merusak kebudayaan dari masyarakat itu sendiri.

Sudah sejak lama persaudaraan agama dengan budaya begitu terjalin erat, fakta sejarah juga membuktikkan bahwa persebaran nilai-nilai agama tak bisa dilepaskan dari praktek budaya, Wali Songo saat menyebarkan agama Islam di tanah Jawa menggunakan budaya sebagai alatnya.

Budaya sendiri jika merujuk pada pernyataan Lourens Minnema memiliki tiga tahap perkembangan. Di tahap pertama, budaya merupakan realitas yang mencakup cara hidup satu masyarakat. Budaya pada tahap ini dicirikan merupakan kebiasaan dan perilaku sehari-hari masyarakat.

Di seluru pelosok negeri ini persaudaraan budaya dan agama masih terjalin dengan erat. Di pedalaman Banten misalnya, tepatnya di kawasan Kanekes yang jadi tempat tinggal masyarakat adat Baduy. Dalam kehidupan sehari-hari, orang Baduy selalu mengedepankan praktek beragama dengan budaya, misalnya dalam urusan menjaga air sebagai sumber kehidupan.

Sungai Ciujung yang membentang di kawasan tanah Kanekes selalu dijaga oleh orang Baduy. Tiap desa di Baduy baik luar dan dalam memiliki batas masing-masing di sungai Ciujung, ini diatur dalam aturan adat orang Baduy. Tujuannya sederhana agar sumber kehidupan ini tak mendapat ekplorasi berlebihan yang berujung pada kemarahan alam.

Beberapa tahun lalu, saya sempat berbincang dengan Aya Mursid girang seuret/wakil kepala desa Cibeo (Baduy Dalam), orang Baduy memiliki prinsip hidup, ‘yang panjang jangan dipanjangkan, yang pendek jangan dipendekkan’, maksudnya kata Ayah Mursid, hidup berdampingan dengan alam harus sederhana dan tak berlebih.

Di ajaran agama mana pun sesuatu yang berlebihan memang tidak pernah dianjurkan. Ujung dari sesuatu yang berlebihan ialah ketamakan, keserakahan, dan hal negatif lainnya, hal ini yang begitu dijunjung orang Baduy untuk menjaga sumber kehidupan mereka. Balutan budaya dan agama untuk menjaga sumber kehidupan tidak hanya dilakukan lewat kata-kata, tapi juga lewat praktek upacara adat.

Di Baduy dikenal adanya upacara kawalu, upacara ini secara garis besar ialah cara orang Baduy untuk bersih-bersih diri dan tempat tinggal mereka dari kotoran duniawi. Prakteknya orang-orang Baduy luar, dalam, dan dangka di upacara kawalu melakukan pembersihan terhadap sampah-sampah yang berada di sungai Ciujung. Sedikit informasi, bulan kawalu adalah bulan suci bagi orang baduy, selama bulan lawalu, akan diadakan beberapa upacara adat lama orang baduy khususnya di kampung baduy dalam.

Di agama Islam, air juga diposisikan sebagai sumber kehidupan penting yang wajib dijaga. Di Alquran terdapat 41 surat yang menjelaskan arti penting dan kewajiban untuk menjaga air sebagai sumber kehidupan, seperti pada Surat Al Furqaan ayat 49 yang artinya,

“agar Kami menghidupkan dengan air itu negeri (tanah) yang mati, dan agar Kami memberi minum dengan air itu sebagian besar dari makhluk Kami, binatang-binatang ternak dan manusia yang banyak.”

Di Kristen, air di Alkitab disebutkan lebih dari 700 kali. Alkitab sering menggunakan sifat-sifat unik air?—teristimewa kuasanya untuk membersihkan dan menunjang kehidupan?—untuk menggambarkan nilai-nilai rohani.?—Yesaya 58:11; Yohanes 4:14.

Harmonisasi antara agama yang dianut orang Baduy dengan budaya asli mereka menciptakan keindahan dan keberlangsungan demi kehidupan mereka sehari-hari. Sumber kehidupan di jaga tidak berdasar hawa nafsu tapi lebih kepada untuk kemaslahatan umat. Bahkan di praktek kehidupan yang lain seperti menjaga hutan yang juga sumber kehidupan manusia, orang Baduy juga membalutnya antara agama dengan budaya.

Orang Baduy dikenal sangat menghormati hutan sebagai leuweung kolot atau titipan dari Sanghyang Keresa (Yang Maha Kuasa) yang wajib dijaga kelestariannya. Maka tak mengherankan di hukum adat Baduy dikenal dua jenis hutan yakni hutan lindung yang tak boleh dieksplorasi dan hutan lindungan kampung atau yang disebut hutan lembur. Dua jenis hutan ini begitu dikeramatkan oleh orang Baduy, tujuannya bukan seram-seraman semata namun untuk menjaga kelestarian hutan tersebut dari praktek hawa nafsu.

Ayah Mursid mengatakan bahwa di hutan tersebut memiliki mata air yang wajib dijaga oleh orang Baduy, ini penting untuk menjaga keberlangsungan orang Baduy di masa mendatang. Artinya label keramat semata dilekatkan untuk membuat orang luar baduy menjadi enggan untuk mengunjungi hutan tersebut dan mengeksplorasi secara membabi buta seperti yang kita lihat hutan di banyak tempat.

Praktek harmonisasi agama dan budaya juga bisa kita lihat dari kehidupan penganut aliran kepercayaan Kaharingan di pedalaman Kalimantan Tengah tepatnya di desa Tumbang Malahui, Palangkaraya. Di sana, penganut Kaharingan tiap hari Kamis atau Jumat malam selalu mengadakan ibadah rutin di Balai Kaharingan.

Dalam praktek beribadahnya, penganut Kaharingan tak bisa dilepaskan dari lukisan Batang Garing atau Pohon Kehidupan. Batang Garing sangat terkenal di kalangan warga Dayak.

Dari lukisan batang garing ini, warga Dayak diingatkan dunia yang ditempati saat ini hanya sebagai tempat tinggal sementara. Kaharingan mempercayai tanah air manusia yang sebenarnya adalah di dunia atas, yaitu di Lawu Tatau. Filosofisnya orang Dayak diingatkan agar tidak terlalu mendewakan sesuatu yang bersifat dunaiwi.

Arton S Dohong, Ketua Majelis Agama Kaharingan yang juga sempat menjabat sebagai wakil Bupati Gunung Mas, Palangka Raya beberapa waktu lalu mengatakan bahwa pada hakiketnya penganut Kaharingan selalu menekankan idup beradab, hidup kebersamaan dengan sesama, dan hidup saling menghormati.

Jika terjadi konflik, dalam tradisi Kaharingan tidak mengenal adanya konflik. “Kaharingan tetap berpeguh teguh pada ajaran dan nilai filosofis untuk hidup rukun antar sesama,” kata Arton.

Lagi-lagi kita bisa melihat bahwa harmonisasi budaya dan agama di masyarakat Gunung Mas meniadakan yang namanya praktek mengedepankan hawa nafsu berlebih di dalam kehidupan sehari-hari. Ini tentu menjadi penting seperti pesan yang disampaikan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia dalam saresehan yang membahas reaktualisasi relasi agama dan budaya di Bantul, Yogyakarta pada awal November 2018 lalu.

Acara saresehan itu bertujuan untuk memperkuat relasi agama dan budaya untuk menjadi filter budaya asing dan paham transnasional yang dalam kasus tertentu mempermasalahkan jalinan relasi agama dan budaya di Indonesia yang sudah terjalin apik sejak lama.

Menggunakan hawa nafsu berlebih dengan balutan untuk memurnikan ajaran agama dan lantas menghilangkan budaya tertentu faktanya memang sudah jadi fenomena tersendiri di sejumlah negara Timur Tengah yang hancur karena perang saudara.

Pada situasi ini langkah Kementerian Agama RI untuk mempertemukan agamawan, cendekiawan, dan budayawan bisa tepat agar menyadarkan masyarakat bahwa pada dasarnya tidak ada pertentangan yang mendasar antara budaya dengan agaman. Kedua-duanya sama-sama saling melengkapi dan menguatkan.

Agama menurut pandangan Max Weber merupakan aspek kehidupan manusia yang universal bahasa, serta inheren dengan sistem kekerabatan manusia itu sendiri. Maksudnya, manusia yang menjunjung budaya dan nilai-nilai agama bukanlah mereka yang terperangkap dalam cerita takhayul semata namun manusia yang lebih berpikir realistis untuk menghadapi tantangan masa depan. Melepaskan atribut budaya semata-mata dianggap bertentangan dengan nilai agama justru akan menjadi blunder yang mengakibatkan kita terjebak pada pola pikir sempit.

Sekarang yang jadi tantangan ke depan ialah jika mau terus mempopulerkan harmonisasi antara budaya dan agama, langkah strategis yang dilakukan ialah masyarakat mampu menilai hal tersebut dari pendekatan antropologis, pertama budaya pada hakekatnya ialah soal eksistensi manusia di muka bumi, kedua konsep agama juga bagian tak terpisahkan dari konsep budaya.

Pasalnya jika merujuk dari argumen para sosiolog mulai dari Durkheim, Talcott Parsons, hingga Clifford Geertz, kita bakal menemukan satu kesimpulan besar bahwa agama dan budaya memiliki fungsi untuk menjadi pedoman bagi masyarakat menemukan identitasnya.

Artinya tidak perlu ada tumpang tindih antara agama dan identitas budaya. Kondisi yang tumpah tindih justru akan membuat masyarakat terperangkap pada pola pikir primordial dimana masyarakat dengan identitas budaya terpinggirkan oleh mereka yang mengaku masyarakat beragama, begitu juga sebaliknya.

Kondisi ini yang pada akhirnya juga disadari oleh para agamawan dan budayawan di saresehan yang digelar Kementrian Agama. Di saresehan yang berlangsung pada 2-3 November 2018 lalu, salah satu sub poin penting dari permukataan yang dihasilkan ialah terus memperbaiki dan mengembangkan bahasa agama dan budaya yang mampu menghindarkan dirinya dari diksi, semantika atau retorika yang jumud, intoleran, teologi yang berpihak, atau ideologi yang bertentangan dengan kenyataan aktual, faktual, juga historis bangsa.

(Visited 19 times, 1 visits today)

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *