Katanya Ideal Tapi Kok Beracun?

Eh lu cowok cengeng banget sih kayak cewek! Gitu aja nangis!

kalimat diatas adalah beberapa dari sekian banyak ucapan yang sering terngiang-ngiang di kepala saat diri ini sedang memasuki fase dirundung masalah dan kesedihan. Saya lahir berjenis kelamin laki-laki dan tentunya di harapkan dapat melanjutkan tuntutan tak tertulis yang sudah turun menurun meresap dalam kebudayaan masyarakat sekitar, yaitu untuk menjadi “laki-laki ideal” bagi masyarakat. Lah piye? Kan emang cowok harus gitu!

Sedikit flash back dan menceritakan masa lalu saya. Saya memiliki cukup banyak trauma, entah mengapa saya adalah tipe orang yang lebih cepat nangis dan tersentuh dengan sesuatu yang sensitif dan emosional.  Saya sering mendapatkan ejekan saat saya menangis, entah disaat saya mendapat nilai jelek, di ganggu, kehilangan, bahkan sampai jika saya melakukan sebuah kesalahan/merasa bersalah jika ada sesuatu yang buruk terjadi di sekitar saya. Awalnya di masa awal masuk sekolah dasar semua berasa normal,jika saya sedih saya merasa ada satu atau lebih orang yang dekat walau hanya sebatas memberi semangat. Sampai saya memasuki kelas 5 semua itu perlahan berubah, kata-kata Eh lu cowok cengeng banget sih kayak cewek! Gitu aja nangis! semakin sering saya dengar saat saya merasa butuh dukungan. Semakin kata itu teralamat ke diri saya, semakin sering pula saya menyalahkan diri saya sendiri dan menganggap saya lemah. Sampai ada banyak momen setelah menangis saya berjanji kepada diri saya sendiri bahwa saya tidak akan menangis lagi besok dan seterusnya. Dan apa yang terjadi? Saya mengalami saat dimana saya kesulitan untuk mengungkapkan dan mengekspresikan rasa kesedihan, sampai saya merasa sedih namun tidak sanggup mengekspresikannya saat saya kehilangan beberapa orang yang saya cintai.

Tumbuh menggapai ekspektasi menjadi “laki-laki ideal” dimata masyarakat membuat saya hampir berbenturan dengan hal-hal berbahaya. Menyelesaikan dengan cara “JANTAN”  berujung babak belur atau mengubur rasa bersalah karena sudah menyakiti orang lain, Menabsihkan diri sebagai pemimpin nan tegas, sampai memandang laki-laki ya nomer satu. Well, banyak yang bilang itu adalah keistimewaan menjadi laki-laki.

Namun apa iya? Kenapa harus ada yang lebih istimewa? Bukannya manusia di ciptakan semua sama dan juga sama derajatnya  di mata tuhan? Pertanyaan yang terlintas spontan di otak itulah yang membuat saya bangun dari posisi tidur menghadap kelangit sampai ke posisi duduk dan mulai melontarkan diskusi antar otak dan hati (FYI ini adalah kegiatan yang rutin saya lakukan disaat saya merasa sepi/sedih/butuh teman cerita). Terlintas lagi memori masa kecil saya, dimana saya merasa senang bercerita di sekitar orang-orang terdekat dan merasakan leganya saat saya selesai menangis. Terlintas lagi memori di saat saya merasa harus menjadi “laki-laki ideal” yang akhirnya ditutup oleh suara dari kepala saya bahwa kenapa lu gak jadi manusia aja?padahal kan lu manusia! Dan saat itulah yang menjadi titik balik saya untuk kembali merasa hangatnya merajut kembali dengan rasa. Perlahan saya menggiatkan diri untuk membaca dan perlahan melepas keistimewaan yang malah menjadi racun menjadi diri saya. Saya kembali merasakan indahnya rasa dan ketenangan setelah tangis membiru, seperti saat saya memberanikan diri kembali untuk berbicara lebih akrab dengan keluarga saya, ketika saling percaya dengan pasangan saya untuk melanjutkan hidup bersama, derai air mata saat  saya mendengar tangisan pertama kalinya anak pertama saya. Dan banyak rasa indah dan tenang lainnya yang terlahir dari banyak momen dan pembelajaran.

Tidak ada yang salah dengan manusia yang memiliki kepekaan akan perasaan dan sekitarnya, tidak ada yang salah juga jika laki-laki menangis, karena itu adalah sebuah ekspresi alamiah yang dibutuhkan manusia untuk semakin merawat diri dan jiwanya, serta lebih mendekatkan diri dan merasakan sekitar.

*tulisan ini adalah bentuk curahan dari kegelisahan pribadi penulis yang ingin mengajak untuk lebih peduli sekitar kita dan tidak lagi memaksakan kehendak untuk menguasai.

(Visited 5 times, 1 visits today)

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *