Saat Semua Sudah Merasa Bosan

Beropini tanpa mencari tahu lebih dalam mungkin sedang menjadi jalan ninja yang saat ini populer untuk di tekuni. Di tengah banyaknya orang berharap sama penanganan pandemi yang serius banget ini bisa berdampak dengan penurunan penyebaran virus. Namun sayangnya, nampaknya penanganannya harus lebih ekstra lagi, karena sampai saat ini angka yang tersiar malah makin hari makin mengkhawatirkan (semoga tidak ada yang menganggap angka ini hanya statistik saja).

Ditengah masih semerawutnya keadaan memang akan selalu ada orang yang memilih jalan ninja seperti yang saya tulis di atas. Yaps, belum lama ini ada seorang musisi dan penggiat sosmed (karena followersnya banyak dan aktif posting terus) yang mempertanyakan sebuah foto dengan mengomentari unggahan foto karya Joshua Irwandi mengenai jenazah pasien Covid-19 yang menjadi viral di media sosial. Belio menyebut ada beberapa kejanggalan dalam foto tersebut.

Misalnya soal fotografer yang bisa melihat jenazah saat keluarga tidak diperkenankan.

Dalam kasus kematian (yang katanya) korban cvd, keluarga saja tidak boleh menemui. Ini seorang Fotografer, malah boleh. Kalau kamu merasa ini tidak aneh, tulis sang musisi di akun sosmednya yang berfollowers 1jtan.

Mungkin kamu sudah bisa menebak siapa orangnya? yaps ogut stop sampai sini karena ogut males bahas kasus ini, dari statement belio diatas, jawabannya karena ada surat ijinnya dengan prosedur perijinannya dan juga foto tersebut foto jurnalistik bukan foto komersial apalagi foto dari cepretan hape jadul mimin lambe turah. dah lah, ogut lebih minat untuk mengupas tentang kenapa banyak yang memilih jalan ninja ini, lagi pula belio juga udah minta maap.

Kejenuhan, kebosanan dan mungkin sedikit rasa putus asa menggelayuti kita sedari Maret sampai Mei bahkan bisa jadi sampai saat ini. Bisa di maklumi karena mungkin ini adalah kali pertama bagi banyak orang merasakan masa seperti ini. Ogut juga merasakannya, masa di mana semua yang sudah biasa dipaksa untuk terganti oleh sesuatu yang tidak biasa.

Ketidaksiapan mungkin bisa di bilang menjadi poros utama timbulnya opini meremehkan pandemi yang terjadi saat ini, mungkin di tambah masih ada sisa efek post-truth politics di mana hoax atau teori konspirasi disampaikan berulang-ulang sampai bisa menjadi kebenaran. Selain itu mungkin ini juga bentuk kemuakan akan komersialisasi yang tetap terjadi yang dalam beberapa kasus yang terjadi dimana masih saja ada orang yang tega meraup keuntungan di atas penderitaan banyak orang akibat pandemi ini sampai kekecewaan dengan penanganan dan keputusan yang diambil oleh pengambil keputusan.

Sebenarnya sah-sah saja setiap orang memiliki opini ini, namun bisa menjadi masalah jika opini ini tidak berlandaskan riset dan kebenaran minimal pertanggung jawaban (lah wong cuma opini) sampai menyebar ke banyak orang di karenakan sang empunya opini memiliki power. Contoh bagaimana Jair Bolsonaro Presiden Brazil serta Presiden AS Donald Trump  yang meremehkan Covid-19 dan kini negara tersebut bisa di bilang kewalahan mengahadapi gelombang serangan virus ini. Atau bila masih ingat ada salah seorang dari jajaran pemerintahan yang melontarkan pendapat di sebuah acara formal belio berujar bahwa virus corona tidak masuk ke Indonesia karena setiap hari kita makan nasi kucing, jadi kebal. Sungguh statement yang bertolak belakang dengan keadaan dan realita yang terjadi saat ini.

Nah, sebenernya saya setuju aja dengan opini Covid-19 ini memang ada, namun tidak perlu terlalu di takuti dengan konteks tidak takut itu adalah dengan tetap saling jaga dengan menjalani protokol kesehatan pakai masker rajin cuci tangan dan tidak berkerumun. Namun jika ranahnya sudah tentang imbauan atau ajakan untuk tidak mempercayai jika covid-19 bisa menginfeksi siapa staja dan bisa berdampak fatal terhadap penderitanya, Ya gak gitu bos! maap saya gak ikut setuju. Ada kelompok rentan yang mungkin bisa a beresiko terinfeksi virus ini sehingga ya bagi yang merasa dirinya sehat juga harus mematuhi protokol kesehatan agar tidak menjadi medium penularan. Anda bisa santai cuap-cuap dengan previllege yang anda miliki sementara beberapa orang dengan kekebalan tubuh yang tidak seperti anda bisa jadi mengikuti anda dan pada akhirnya menjadi orang yang termasuk dalam hitungan pemberitaan data tertular Covid-19.

Akhir kata hanya ingin menyampaikan bahwa tetaplah teguh dengan opini anda, karena setiap manusia memiliki hak berpendapat. Namun jabarkan juga opsi untung rugi dari opini anda, minimal berpikir dan membaca dahulu sebelum beropini. Atau jadikan opini anda tidak untuk mencari pengikut atau peneguh eksistensi, namun cukup untuk kepuasaan batin saja, sampai opini anda tervalidasi oleh bukti ,fakta, dan kajian yang nyata dan bisa di pertanggung jawabkan.

Jangan menjadi bagian dari opini yang begulir liar tanpa landasan dan berulang sehingga menjadi sebuah kebenaran. Seperti sejarah yang ditulis oleh daripada pemenang perang.

(Visited 4 times, 1 visits today)

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *