Cikini, Sudut Luput Ibu Kota

OhGreat.id – Cikini merupakan salah satu kawasan tua yang ada di Jakarta. Bukan asal sebutan karena memang di wilayah yang menjalar sepanjang Jalan Menteng Raya – Jalan Cikini Raya – Jalan Pegangsaan Timur, jadi saksi bisu kejayaan Batavia di masa lalu.

Masa kini, Cikini memang tidak segemilang jika dibandingkan dengan sudut lain kota seperti Melawai, Panglima Polim, hingga Kemang. Namun, jika ditilik lebih dalam, kawasan ini bak raksasa tua yang kini memilih beristirahat mengikuti alur zaman.

Dari masa lalu, hingga sekarang, Cikini punya titik-titik yang terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja. Sepanjang garis tiga jalan di atas, sudut-sudut masa lalu masih mengeluarkan aura magisnya, jika dirasakan lebih dalam.

Terletak tepat di ujung Jalan Cikini Raya, bangunan tua Tjikini Post Kantoor menjadi “penyambut” bagi masyarakan yang berlalu –lalang di sana. Gedung yang sudah berdiri sejak zaman kolonial Belanda tersebut awalnya difungsikan sebagai kantor penyedia prangko. Masyarakat era sebelum kedatangan Jepang menyebutnya dengan Tjikini Post Kantoor.

Gedung Pos Cikini juga menjadi bangunan pembuka untuk menyusuri trotoar sepanjang Pertokoan Cikini. Bangunan gedung yang agak menjorok ke jalan menciptakan koridor apik yang terlalu sayang untuk dilewati.

Tidak usah terlalu terburu-buru ketika menyusuri koridor ini. Mata kita akan dimanjakan dengan bangunan-bangunan toko tua yang sudah ada bahkan sebelum negara republik bernama Indonesia didirikan. Sepanjang koridor ini juga berdiri dua toko legendaris yakni Tan Ek Tjoan (roti) penjual kopi empat generasi mililk keluarga Liauw Tek Sun yang kini mengusung nama Bakoel Koffie. 

Maju sedikit ke era modern di kawasan Cikini juga berdiri pusat studi kesenian terbesar di Indonesia yakni Taman Ismail Marzuki (TIM). Diambil dari nama penyair legendaris tanah air, tempat ini merupakan kawah kreativitas bagi seniman-seniman dalam berkreasi.

TIM sering menggelar pertunjukkan-pertunjukkan seni kelas tinggi macan teater, konser musikal, serta seni pertunjukkan lain. Biasanya acara-acara tersebut dilakukan di sejumlah gedung yang masih ada di kawasan TIM seperti Teater Besar dan Teater Kecil.

Sebelum Ragunan identik dengan kebun binatang, pendahulunya ada di Cikini. Didirikan pada 1884 di atas tanah partikelir milik pelukis terkenal, Raden Saleh. Tidak jauh dari situ, berdiri  Koningen Emma Ziekenhuis, bangunan yang sekarang digunakan untuk Rumah Sakit Persekutuan Gereja Indonesia. Letaknya terbentang dari TIM, kolam renang Cikini, hingga SMP I Cikini sekarang.

Hingga era 1960-an, Kebon Binatang Cikini masih menjadi tujuan primadona masyarakat ibu kota untuk berekreasi. Pada 1970, Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin memindahkan Kebon Binatang ke wilayah Ragunan karena dianggap lebih cocok seiring perkembangan kota yang semakin pesat.

Saking terkenalnya Kebon Binatang Cikini, ada satu makanan yang juga ikutan terkenal yakni Gado-Gado Bonbin, terletak tidak jauh dari bekas kebun binatang berdiri.

(Visited 7 times, 1 visits today)

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *