Bro, Catcalling Gak akan Bikin Lo Keren dan Hebat!

Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, setelah selesai merapihkan beberapa catatan hasil meeting sore ini dengan seorang klien di sebuah hotel budget di bilangan Jakarta Selatan, saya bergegas menutup laptop dan merapihkannya kedalam tas. Sebelum saya meninggalkan tempat tersebut saya berniat untuk menyapa sebentar manager hotel ini dilantai dasar, karena kebetulan manager hotel ini cukup sering berkomunikasi dengan saya karena dia adalah PIC project yang saya jalankan dengan hotel ini. Kebetulan dia sedang berada diberanda coffee shop hotel ini dan kami bercakap santai seputar pekerjaan kami dan progressnya. Kebetulan saat itu ada 2 orang laki-laki yang belum saya kenal.

Disela-sela obrolan ringan saya, saya mendengar keluhan tentang pekerjaannya dari salah satu dari 2 orang lain yang duduk bersama kami. Asumsiku orang tersebut sedang mengalami hari yang berat, karna ku mendengarnya beberapa kali mengeluh. Disela sela keluhannya, saya yang sedang mengobrol santai dengan teman saya teralihkan karna mendengar sebuah celetukan dari orang tersebut. Celetukan yang mengarah ke seorang perempuan yang sedang berjalan di pinggir jalan. “Mau kemana cantik, sendirian aja,mau dianterin gak?!” kalimat itu terdengar cukup keras terucap. Lalu teman bicaraku merespon ke laki-laki itu,

“Gila lu **** “. Laki-laki tersebutpun menjawab santai sambil tertawa “hahaha.. gini nih bang kalau gw lagi stress”, disambut tawa dari teman saya dan 1 laki-laki lainnya.  Godaan verbal ini yang disebut catcalling. Catcalling sebenarnya merupakan bentuk pelecehan yang sangat sering terjadi, pelakunya? Seringnya laki-laki yang sedang bergerombol, motifnya? Mulai dari iseng, lucu-lucuan sampai nunjukin superioritas dan yang baru-baru ini saya alami, ia hanya ingin melampiaskan rasa frustasinya dengan melempiaskannya ke perempuan L , well apapun motifnya patut diketahui ini bukan suatu hal yang lucu apalagi menghibur!. Catcalling merupakan perbuatan yang sangat menganggu. Membuat perempuan yang mengalaminya merasa tidak nyaman, bahkan merasa terancam. Lalu pelakunya, ya habis menggoda udah rasa puasnya hilang menguap begitu saja, namun untuk korban kejadian itu akan melekat sepanjang hidupnya,  salah satu efek  buruknya korban bisa saja mengalami trauma untuk melintasi jalan itu kembali, sehingga membatasi dia beraktifitas.

Kembali dikejadian yang saya alami, disela tawa mereka, saya merespon “Bang, itukan ade gw bang”. Seketika keadaan jadi hening, Nampak laki-laki yang ada disana terdiam dengan raut muka merasa tidak enak. Lalu teman saya tersebut bilang seriusan Z**? Diselingi permintaan maaf laki-laki tersebut kepada saya karena sudah menggoda perempuan tersebut.

Well, saya memutuskan menggunakan cara tersebut (menganggap perempuan itu adik saya) agar harapannya saya bisa memberikan teguran tanpa harus menggurui selain itu saya baru bertemu dengan laki-laki itu. Menanggapi itu saya kemudian berkata, “Bang kan salahnya sama perempuan yang tadi, bukan sama saya”, kemudian dia merespon “iya bang, sampein maaf saya juga ya bang ke adik abang.”, saya hanya senyum kecil (lebih ke senyum males) karena ya ternyata pelaku hanya berani menggoda tapi tidak berani meminta maaf atas perbuatannya. Merespon pembicaraannya saya berkata“bang, kita tidak pernah tahu kalau perempuan itu Adik, Kakak, saudara atau ibu dari siapa. Tentunya kita akan marah jugakan jika anggota keluarga kita mendapatkan perlakuan yang sama seperti yang abang lakukan saat ini.”  Sambil saya bersiap meraih ransel sambil bergegas pamit ke teman saya untuk kembali kerumah.

Apa yang saya tulis ini bukan bertujuan untuk meminta apresiasi atas apa yang saya lakukan, karna yang saya lakukan adalah tugas saya sebagai manusia.  Tulisan ini juga bukan untuk menunjukkan pengetahuan saya, karna menurut saya saat ini saya masih belajar dan akan terus belajar.  Saya menulis ini hanya untuk mengajak pembaca untuk lebih peduli terhadap sesuatu yang selama ini dianggap sepele namun berdampak sangat besar.  Dan bentuk mengajak merefleksikan diri kembali konsep diri bukan hanya sebagai laki-laki tapi sebagai manusia yang sebenarnya sama dimata sang pencipta.

Dan jika teman teman pembaca memiliki pengalaman atau tips untuk memberi pemahaman yang lebih efektif tentang berbicara terhadap pelaku, jika berkenan silahkan berbagi ke saya dan teman pembaca lainnya, sebagai bentuk perlawanan kita terhadap segala bentuk pelecahan dan kekerasan.

(Visited 14 times, 1 visits today)

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *