Belajar Mensyukuri Hidup dari Friday Zico

Salah satu pelajaran hidup yang paling sulit untuk dijalankan ialah bersyukur. Mudah diucapkan, sulit dipraktekkan. Selalu saja ada hal yang membuat kita merasa kekurangan dan tak mampu mensyukuri nikmat hidup.

Salah satu nikmat hidup yang kadang luput untuk disyukuri ialah bisa hidup di negeri ini. Meski banyak hal buruk tentang negeri ini, setidaknya kita wajib bersyukur tidak tinggal di negara konflik seperti Sudan Selatan misalnya.

Beberapa hari yang lalu saya membaca artikel di AFP soal betapa mengerikannya kondisi di Sudan Selatan. Di artikel itu disebutkan usaha untuk mengakhiri konflik berdarah tak jua menemukan hasil positif. Laporan PBB menyebutkan bahwa kedua kubu yang bertikai sama-sama melanggar perjanjian gencatan senjata.

Konflik Sudan Selatan

Kondisi ini makin diperparah karena embargo senjata yang diberlakukan PBB kepada Sudan Selatan berujung kepada masalah-masalah mengerikan lainnya, mulai dari kekerasan seksual, kelaparan, serta bencana hak asasi manusia. Status negara yang baru merdeka pada 09 Juli 2011 sudah pada tahap paling mengkhawatirkan.

Sebelumnya, sejak 1983, wilayah Sudan Selatan sudah merasakan kekejaman perang bersaudara. Keinginan untuk merdeka disambut oleh pemerintah Sudan dengan desingan peluru. Ditopang oleh sejumlah milisi dari Zaire, Libya, hingga Belarus, tentara Sudan membombardir wilayah Sudan Selatan selama 21 tahun.

Orang Sudan Selatan tak tinggal diam dan membemtuk sejumlah milisi perlawan seperti Sudan People’s Liberation Army (SPLA). Jumlah yang tewas akibat konflik ini dikabarkan mencapai angka 1-2 juta orang dari masing-masing kubu.

Setelah merdeka, tak lantas menjadikan Sudan jadi negara damai. Konflik berdarah di Sudan Selatan kembali pecahh akibat konflik politik antara Presiden Sudan Selatan Salva Kiir Mayardit dengan wakilnya, Riek Machar pada 2013 silam.

Kubu sang presiden menganggap bahwa Machar tengah berupaya melakukan kudeta kepada dirinya. Masalah semakian meluas manakala kedua kubu pada akhirnya membentuk milisi bersenjata untuk mempertahankan kekuasaan dan narasi politiknya.

Perang antar dua milisi ini kemudian tak lagi bisa dibendung dan menjadikan Sudan Selatan sebagai arena perang bersaudara paling mengerikan di dunia.

Laporan peneliti independen dari Amerika Serikat yang dirilis pada September 2018 menyebutkan bahwa korban tewas akibat konflik di 2013 mencapai angka 382.900 orang, – sekedar informasi, jumlah penduduk Sudan Selatan sendiri pada 2017 sebesar 12.230.739 jiwa.

Perjuangan Friday Zico

Angka harapan hidup yang semakin menipis membuat banyak orang Sudan Selatan tak punya pilihan lain selain pergi dari tanah airnya. Pilihan sulit yang pasti akan selalu diambil oleh penduduk daerah konflik. Keputusan itu jua yang diambil oleh keluarga Friday Zico, pesepakbola asal Sudan Selatan yang sempat melakukan sesi trial di Manchester United pada era kepelatihan David Moyes.

Zico lahir di Magwi pada 2004, setahun sebelum perang bersaudara dihentikan. Saat itu ancaman pembunuhan yang ditujukan kepada suku Zico berasal, suku Acholi membuat keluarganya memutuskan untuk hijrah ke Australia.

“Suku kami mendapat banyak dampak dari perang yang mengerikan itu. Banyak anak-anak dari suku kami diculik lantas dijadikan tentara anak, banyak juga terjadi tindak pelecehan seksual kepada perempuan dari suku kami,” kata pemain yang berposisi sebagai bek tersebut kepada AFP.

Zico sempat menceritakan kisahnya sebelum bisa sampai ke Australia. Sebelum memutuskan untuk pergi dari tanah kelahirannya, Zico mengatakan bahwa sebelum perang bersaudara pecah, Sudan Selatan memiliki banyak kenangan indah bagi dirinya. Zico menyebut bahwa dulu sepakbola ialah pelarian paling menyenangkan bagi orang Sudan Selatan.

Zico menyebut bahwa sepakbola seperti sudah jadi ‘agama’ kedua di Sudan Selatan. Di tiap sudut kota, banyak anak muda di Sudan Selatan mengenakkan jersey-jersey klub Liga Inggris mulai dari Arsenal, Chelsea, Liverpool, dan Mancheter United.

Sepakbola kata Zico bagi orang Sudan Selatan saat itu ialah kebahagiaan di kondisi tak menentu negara mereka. Saat Timnas Sudan Selatan bertanding kata Zico, semua suku berkumpul di depan layar kaca atau di dalam stadion.

“Kami semua memberi semangat dan bernyanyi. Sepakbola memberikan energi positif dan melupakan hal yang harus dilupakan,” kata Zico.

Timnas yang bermain kata Zico selalu memberikan senyuman kepada orang Sudan Selatan, tak peduli hasil pertandingannya. Orang Sudan Selatan seperti mendapat banyak inspirasi untuk terus menjalani hidup di wilayah yang dicap sebagai salah satu nerakanya dunia.

Saat Sudan, induk semang Sudan Selatan tengah melakoni pertandingan kualifikais Piala Dunia 2002, Zico bersama rekan-rekannya tengah berada di situasi menyelamatkan diri dari desingan peluru.

Sepakbola juga menjadi bagian dari alat politik bagi pemerintah Sudan Selatan untuk menunjukkan eksistensinya. Tak lama setelah menjadi negara merdeka, Sally Samuel Lolako ditunjuk oleh pemerintah Sudan Selatan untuk membentuk federasi sepakbola dan timnas. Setahun setelah merdeka, Sudan Selatan diterima menjadi anggota FIFA di Budapest pada 2012.

Juni 2012, Timnas Sudan Selatan melakoni laga internasional pertamanya melawan Uganda, skor akhir 2-2. Sayang setahun kemudian, konflik berdarah meletus. Darah membahasai bumi Sudan Selatan, sepakbola tak lagi jadi pelarian yang menyenangkan. Orang Sudan Selatan harus benar-benar berlari untuk bisa menyelamatkan hidup.

Zico dan keluarganya sendiri saat konflik berdarah di Sudan Selatan mencapai puncaknya pada 2013 sudah berada di Australia. Pemerintah Australia memberikan suaka untuk Zico dan keluarga setelah sebelumnya menjadi pengungsi di Uganda.

Pemberian suaka pemerintah Australia ke Zico dan keluarga tentu saja tak lepas dari skill Zico bermain sepakbola. Zico dianggap sebagai salah satu talenta berbakat di lapangan hijau. Ia seperti memiliki bakat alami bermain sepakbola, seperti seorang Zico, si Pele putih dari Brasil.

“Mereka (pemerintah Australia) membawa kami ke Perth. Kami hanya mengikuti, tak banyak kami bertanya yang terpenting kami bisa tinggal di tempat yang aman,” kata Zico.

Meski berstatus sebagai pengungsi di Austrlia, Zico pada Juli 2015 mendapat panggilan untuk bermain bersama Timnas Sudan Selatan. “Itu bukan keputusan yang mudah untuk diambil, apalagi kondisi di Sudan Selatan makin mengerikan. Ribuan orang tewas dan kami sangat takut untuk kembali kesana,” kata Zico.

Sebelumnya pada 2014, saat Zico tercatat bermain untuk klub Perth SC, ia sempat mendapat panggilan untuk mengikuti pemusatan pelatih Timnas Sudan Selatan untuk mengikuti ajang Piala CECAFA, kompetisi sepakbola antara negara-negara di kawasan Afrika Tengah dan Timur. Namun kompetisi itu urung terlaksana karena wabah Ebola.

Bakat Zico di Australia kemudian makin mengkilap. Ia dianggap sebagai bek tangguh di Liga Australia. Pada 2015, Zico tercatat membela salah satu klub semiprofesional di kawasan Australia Barat, 1 gol mampu dicetak bek bertinggi badan 178 cm tersebut.

Aksi impresidnya inilah yang membuat Zico diundang untuk mengikuti trial di Manchester United. Zico mengatakan bahwa selama 3 bulan di Manchester United, ia banyak mendapat ilmu sepakbola.

“Sungguh menakjubkan bisa mendapat ilmu di Manchester United. Sayang saya tak mendapat izin kerja meski mereka sudah menawarkan saya untuk bergabung di tim U-21,” kata Zico.

Meski cukup nyaman tinggal di Australia dan mendapat kesempatan untuk berlatih di Mancheste United, Zico masih merasakan rindu pada tanah kelahirannya. Zico tak melepas status kewarganegaraannya, ia memiliki dua kewarganegaraan, Sudan Selatan dan Australia. Di hati kecilnya, Zico selalu berharap bahwa Sudan Selatan bisa lepas dari jerat perang saudara.

Zico ingin kembali merasakan suasana hangat dan bersahabat saat orang-orang di Sudan Selatan bermain sepakbola dan mendukung permainan timnas mereka.

“Ketika kami bisa meraih kemenangan pertama di laga Internasional pada 2015, Anda akan melihat betapa gembiranya orang Sudan Selatan. Semua berkumpul di jalan, tak memandang berasal dari suku mana. Kami bernyanyi, dan bergembira bersama atas raihan timnas,” kenang Zico.

Apa-apa yang telah dijalankan oleh Zico menjadi pelajaran penting bagi saya khususnya untuk mau bersyukur pada segala nikmat hidup saat ini. Tak terbayangkan untuk saya pergi dari Indonesia akibat konflik bersaudara.

Meski negeri ini terlalu banyak hal untuk diperbaiki, setidaknya tiap bangun pagi, saya tak harus mendengar suara ledakan mortir atau rentetan pelaru dari AK-47 yang menembus tembok-tembok rumah.

(Visited 14 times, 1 visits today)

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *