Ahsan/ Hendra Juara All England, Tunggal Putra Kapan (Lagi)?

OhGreat.id – Keberhasilan Mohammad Ahsan/ Hendra Setiawan menjuarai All England 2019 menjadi penyelamat muka Indonesia. Pasangan senior tersebut jadi satu-satunya wakil Merah Putih di partai puncak. Dua pasangan ganda Praveen Jordan/Melati Oktavianti dan Fajar Alfian/Muhammad Rian, tersingkir di semifinal.

Tersingkirnya Kevin/ Gideon di babak awal membuat pecinta bulutangkis tanah di seluruh tanah air sempat khawatir. Namun, keresahan itu terbukti tidak beralasan karena Hendra/Ahsan mampu meraih tangga tertinggi.

Keberhasilan The Daddies, julukan pasangan senior tersebut, meraih gelar juara sekaligus meneruskan estafer ganda putera selama tiga tahun terakhir. Pada edisi 2017 dan 2018, Kevin/ Gideon sukses mengibarkan bendera merah putih di tiang tertinggi.

Sejak 2019, kran juara pemain Indonesia di ajang All England memang kembali terbuka. Pasangan legendaris Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, jadi penutup masa puasa Indonesia setelah kering prestasi selama sembilan tahun.

Sebelumnya, kali terakhir wakil Indonesia yang jadi juara di All England adalah Candra Wijaya/Sigit Budiarto pada 2003. Setelah itu, bertahun-tahun, pemain tanah air seakan sulit jadi yang terbaik. Dua kali Nova Widyanto/Liliyana Natsir tapaki final (2008 dan 2010), namun gagal meraih posisi teratas. Ganda Putri bahkan paling sedih, pasangan Indonesia yang meraih juara di All England terakhir kalinya adalah Imelda Wiguna/ Verawaty Fajrin pada 1979.

Kering Prestasi di Tunggal Putra
Tidak terasa sudah seperempat abad pemain tunggal putra Indonesia absen berdiri di podium tertinggi. Kali terakhir, Haryanto Arbi yang melakukannya pada 1994, mengalahkan Ardy Wiranata Kusuma. Padahal, di masa lalu, tunggal putra Indonesia merupakan salah satu sektor yang paling disegani. Tan Joe Hok, Rudy Hartono, Liem Swie King, Icuk Sugiarto, hingga Alan Budikusuma turun temurun meneruskan tongkat estafer kejayaan.


Regenerasi dan pembinaan menjadi kunci utama penunjang prestasi para atlet. Silih berganti PBSI mengalami perombakan kepengurusan, namun kejayaan di masa lalu tampak masih jauh untuk diraih kembali. Pepatah kehidupan bagai roda benar-benar terjadi pada bulutangkis tanah air.

Salah satu mantan pebulutangkis terbaik Indonesia, Taufik Hidayat pernah berujar, bahwa metode kepelatihan serta perekrutan atlet jadi masalah utama penurunan prestasi tunggal putra. Juara tunggal putra termuda Indonesia Open tersebut pernah mengatakan kerap terjadi praktek nepotisme di Cipayung.

“Saya bicara begini karena saya ada di dalam. Jadi, (ada) misalkan saudaranya siapa, kenal pelatih siapa, bisa masuk pelatnas,” kata Taufik dalam sebuah acara diskusi.

Beragam iming-iming serta bonus dikeluarkan untuk memotivasi para atlet untuk meraih prestasi di kancah tertinggi. Jika dilihat dari nominal, jelas jauh lebih tinggi dibandingkan generasi awal bulutangkis Indonesia era 50-an hingga 90-an. Soal bonus, Taufik, yang kini sibuk sebagai staf Kemenpora, juga pernah berkomentar.

“Kalau menurut saya seperti cepat puas, karena sistemnya menurut saya sedikit salah. Mungkin dari segi kesejahteraan bagus, terutama untuk pemain senior. Tapi, ada yang masih pemain junior sudah diguyur kontrak ratusan juta. Saya melihatnya mereka tidak mau susah,” tegas Juara Dunia 2005 tersebut.

Jawa Pos pernah merilis sumber-sumber pendapatan para pemain bulutangkis tanah air. Setidaknya ada lima sumber yakni kontrak individu, hadiah kejuaraan dari dalam maupun luar negri, bonus dari sponsor, bonus dari klub, dan bonus dari pemerintah.

Untuk pemain level elit A, atau ranking 10 besar di kategori masing-masing, seperti Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, nilainya bisa lebih dari Rp1 milyar per orang selama setahun. Sementara untuk level elit B (ranking 11–20) bisa hingga Rp500 juta. Menurut Kabid Pemasaran dan Sponsorship PP PBSI Yoppy Rosimin, kontrak batas bawah saja mencapai Rp25 juta per tahun.

Kritik Pedas dari Sang Maestro
Soal mentalitas, Sang Maestro Rudy Hartono, juga menyoroti lemahnya karakter yang dimiliki para pemain tunggal putra sekarang. Menurutnya,hal ini jadi saalah satu faktor penyebab menurunnya prestasi Indonesia di sektor ini.

“Jangan manja, harus improvisasi. Kalau pelatih bilang daya tahan kurang kuat, pemain harus tahu lewat mana jalan keluarnya. Harus tahu latihannya bagaimana. Latihan saja sendiri, misal lari atau latihan daya tahan lainnya dengan cara apapun,” kata Rudy dalam sebuah wawancara dengan Jawapos.com

Mental pemain jelas menjadi permasalahan utama bulutangkis Indonesia hari ini. Jika mengutip perkataan Taufik Hidayat soal berpuas diri, ada benarnya juga. Perkembangan media massa dan sosial juga menjadi salah satu distraksi para atlet dalam mengejar prestasi. Untuk menyikapi hal ini, diperlukan kedewasaan dan kebijakan dari pemain yang bersangkutan untuk bisa menempatkan diri. Tahu kapan harus jadi bintang di atas lapangan, kapan harus tampil bersolek di layar kaca.

(Visited 5 times, 1 visits today)

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *