Ada Apa di Balik Semesta Raja-Rajaan?

Pertengahan bulan pertama di 2020 ini memang makin banyak dinamikanya. Setelah awal tahun ibu kota dan beberapa kota lainnya di rundung bencana banjir, sampai kasus jiwasraya yang seperti gerak lincah wiper mobil dikala hujan badai, serta tingkah para elit yang semakin menggelitik nalar. Kini kita di buat tersenyum miris oleh sebuah fenomena munculnya sekelompok yang entah terorganisir atau baru secara spontan kolektif saja, yang memplokramirkan “kekuasaan” yang di klaim oleh dirinya dan kelompoknya.  Dalam artikel ini saya tidak akan membahas detail tentang Keraton Agung Sejagad, Sunda Empire dan sejenis-sejenis seperti kisah fiktif lainnya.

Ok disini saya tidak akan fokus mengupas tentang kerajaan/keemperoran fiktif itu, atau menulis tentang personal/figur figur yang mewakilinya namun lebih mengutarakan opini tentang mengapa ini bisa menjadi tren jika dilihat dari banyaknya real followers mereka (bukan followers dunia maya apalagi followers bot kaya ente)  dan mengapa kemunculannya bisa dibilang bisa  “kompakan”.

Melihat beberapa potongan video acara ILC membuat saya tertarik untuk menelusuri video lengkapnya (tabayyun) karena saat saya melihat potongannya saya tercengang dengan statemen yang menggelitik nalar saya, dan makin pusing mendengar suara pembawa acaranya pula melihat pernyataan dari perwakilan sunda empire, seraya dalam hati bertanya, jirrr ni orang gimana..gimana?

Menyikapi fenomena ini dan mengapa banyak orang yang mengikutinya tak terlepas dari banyak faktor pendukung, dan di dominasi oleh sosial dan ekonomi. Di saat saya melihat dan mencoba membaca beberapa referensi yang saya percaya saya teringat terminologi neotribalism. Yaitu munculnya orang-orang yang punya perkumpulan dengan emosi sendiri, dengan ciri-ciri, pola pikir, emosional sendiri. Seperti pendukung fanatik sepakbola dan geng-geng. Selain kesamaan emosi dan pola pikir, dalam komunitas tersebut ada eksklusivitas dan hierarki. Karena Neotribalism muncul karena solidaritas yang pada kemudian rentan di sisipi oleh narasi-narasi berkepentingan. Nah ini yang dijadikan celah yang di manfaatkan mereka yang memegang kuasa untuk tidak hanya memperluas jaringan simpatisan namun juga membangun motif ekonomi didalamnya. Mau jadi apa? Bayar sekian bisa jadi ini lalu cari downline sampai nanti bisa dapat kapal pesiar (MLM Empire).

Romantisme masa lalu juga tak lepas menjadi faktor di balik kerinduan akan kejayaan yang di tulis, diceritakan turun menurun sehingga sudah mengakar di tambah banyak rakyat selalu disiram kekecewaan akan perilaku yang di percaya oleh keadaan saat ini, dan mungkin itulah yang memacu pembuatan startup kerajaan ini. Hampir sama seperti karyawan yang kiciwi bingit dengan atasan lalu memutuskan membuat startup baru.

Ok lah, semoga kejadian ini bisa menjadi pelajaran untuk kita semua dan khususnya bagi pemagang kuasa. Ini bukan hanya tentang kasus penipuan semata namun juga bisa menjadi alarm bagi kita semua untuk saling peduli.

Startup Raja-rajaan ini mungkin baru segelintir dari raja-rajaan universe. Selama ketimpangan masih terjadi dan kekecewaan masih mengalir.

(Visited 7 times, 1 visits today)

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *