74 Tahun Setelah Merdeka

17 Agustus di 74 tahun yang lalu, Segenap rakyat Indonesia bersuka cita. Bersuka cita karena bisa terlepas dari belenggu penjajahan dan penindasan. Pembacaan teks proklamasi menggema, di iringi oleh harapan akan bangsa yang berdaulat dengan rakyat yang sejahtera dan tidak lagi penindasan, dalam bentuk apapun. Namun apakah harapan itu sudah terwujud?

Seperti manusia, nampaknya penindasan dan ketidak adilan juga ikut berevolusi. Lihat saja keadaan saat ini, Hutan Indonesia yang dahulu menjadi kebanggaan sebagai paru-paru bumi di gunduli, yang katanya demi memajukan perekonomian, perekonomiannya siapa? Perut bumi pertiwi di gali dan di keruk sedalam-dalamnya, ironisnya tidak di lakukan penutupan bekas  galian tersebut, sehingga saat ada korban jiwa malah SETAN yang di salahkan!

Keragaman fauna yang harusnya bisa di lihat oleh anak cucu kita nanti, malah di objektifikasi, atau malah yang paing parah, di buru lalu di tembaki! Apakah menunggu semua hewan asli indonesia hanya tersisa di buku sejarah saja? Atau di museum dalam bentuk pengawetan, patung lilin atau tulang belulang saja?

Jika dataran di gali, Lautan di reklamasi. Di timbun tanpa memikirkan ekosistem, bahkan warga sekitarnya yang menggantung hidupnya di laut. Tinggal gusur atau ya biarkan begitu saja.  Ada yang tuntutan pariwisata sampai ke elokan tata kota yang pada akhirnya bermuara pada kesuburan ladang properti. Padahal reklamasi sudah jelas melanggar hak rakyat yang di jamin konstitusi UUD 1945, hak untuk bertempat tinggal dan mendapatkan lingkungan yang baik dan sehat bagi seluruh warga negara (pasal 28 ayat 1) serta Negara yang menjamin hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan dan bagi semua warga negara (pasal 27 ayat 2).Di tambah faktor resiko bencana alam yang di abaikan/di tutupi dengan bujukan teknologi muktahir, atau ada yang malah memanfaatkan ini menjadi janji manis demi kekuasaan. Apapun itu reklamasi bukan solusi, malah akan menjadi musibah untuk bangsa ini.

Keberagaman menjadi nilai tambah bangsa ini. Indonesia di bangun dari banyak ragam suku dan etnis, yang bahu membahu merebut kemerdekaan. Namun saat ini, malah rentan terpecah karna hilangnya kebanggaan kita sebagai sebuah kesatuan, malah lebih bangga di kotakkan dalam kelompok-kelompok yang rentan di pecah belah, kita seakan lupa bahwa kita adalah bangsa yang majemuk. Masih segar ingatan kita, ketika pemilihan kekuasaan datang, maka drama berjilidpun di mulai. Drama yang membagi banyak orang dalam kelompok terpisah lengkap dengan identitas ego masing-masing. Satu sama lain tak segan untuk berdebat bahkan melecehkan. Apakah setelah itu selesai? Tentu tidak! Lihatlah banyak sensitifitas antar golongan yang semakin mencuat ke permukaan dan sangat rentan menyulut api kebencian oleh masing-masing golongan tersebut. Tidak cukupkah kita belajar dari tragedi-tragedi berdarah yang sudah sering terjadi akibat adalah mayoritas yang merasa lebih superior dan menghancurkan minoritas yang kita anggap berbeda pemahaman.

Banyak orang yang lebih asik mengurusi moral orang lain, akan tetapi abai dengan moral diri sendiri bahkan ada yang mengabaikan tanggung jawabnya. Ya salah satu contoh, di suatu kota yang harusnya memikirkan memiliki trotoar layak bagi pejalan kaki, malah lebih memilih membuat soundtrack yang tidak bisa di putar di aplikasi pemutar musik, malah di putar di Lampu lalu lintas. Tidak kalah ajaibnya dengan perencanaan untuk menambah keimanan manusia melalui penerapan peraturan berbusana? Apakah sebuah baju u can see atau celana joging bisa merusak keimanan orang yang memang sudah beriman? Bukankah keimanan itu berada dalam nurani dan kemudian meresap ke perilaku dan perbuatan? Bukankah lebih penting memberikan edukasi untuk tidak melakukan pelecehan atau kekerasan di bandingkan mengatur penampilan seseorang? Perlu di catat dan di ingat, sebuah pelecehan atau kekerasan terjadi karena adanya relasi kuasa yang tidak imbang. Artinya ada yang merasa lebih superior, jadi apakah masih bijak memikirkan pembatasan busana dan membiarkan pelaku berkeliaran, bahkan mungkin mencetak calon pelaku dengan di berikan kepercayaan bahwa mereka di berikan superioritas karena tidak masuk radar pembenahan?

Yak, sama yang terjadi di makin maraknya tuduhan atas sebuah RUU yang belum kunjung di sahkan. Padahal RUU ini penting untuk lebih melindungi Perempuan dan anak dari pelecehan dan kekerasan seksual. Padahal sudah jelas RUU ini butuh segera disahkan. Kasus Baiq Nuril menjadi contoh nyata, lemahnya hukum di Indonesia untuk melindungi korban, dimana korban malah di kriminalisasi oleh pelaku.

 Di tengah urgensi untuk segera di sahkannya RUU PKS, ada juga kelompok yang merasa RUU ini tidak layak untuk di sahkan. Kelompok kontra yang kebanyakan menamai grup mereka dengan kata khas “anti” atau embel-embel lindungi keluarga, menyuarakan tuduhan bahwa RUU ini pro zina dan tuduhan negatif lainnya. Ketidaktahuan akan banyaknya bentuk-bentuk kekerasan dan juga ketidak tahuan tentang rentannya semua orang untuk bisa menjadi korban, memicu mereka untuk berburuk sangka akan RUU ini. Padahal sudah banyak korban yang malah memakai pakaian tertutup. (Saya akan menulis khusus tentang ini di artikel yang lain)

Selain itu, Negara yang di anugrahi tanah yang subur malah membiarkan para pejuang pangan berjuang sendiri melawan derasnya arus zaman. Masih segar di ingatan saya di suatu daerah di Indonesia, di mana sekelompok petani kopi tidak di berikan fasilitasi berupa edukasi dan dukungan yang layak baik dari pemerintah daerah maupun pusat. Sehingga mereka masih mendapatkan ketidak layakan hidup, padahal hasil lahannya sedang menjadi ladang duit bagi banyak pebisnis.

Belum lagi masalah pelanggaran HAM yang belum tuntas sampai dengan saat ini, dan selalu menjadi janji-janji manis untuk di ungkap, namun tidak pernah terungkap sampai saat ini.

Belum lagi beberapa kasus hukum yang masih cenderung tumpul dengan yang punya kekuatan, namun tajam dengan yang tak punya kuasa. Nampaknnya keadaan ini sama seperti kutipan lirik salah satu karya dari Band Asal Bali, Navicula :

Korupsi… Korupsi… kata ini lagi
Selalu menghantui negeri yang frustasi
Korupsi… Korupsi… semakin menjadi
Apapun terjadi diatas transaksi

Tertangkap bercinta dihukum penjara

Korupsi berjuta masih berkuasa

Prinsip imprasial tak berlaku lagi

Siapa punya modal takkan masuk bui

Yak, mungkin itu hanya sedikit kisah pahit dari perjalanan 74 Tahun Negeri yang di beri nama Negara Kesatuan Republik Indonesia… Karena masih banyak keresahan dan kisah pahit lainnya, baik yang terungkap maupun yang tidak terungkap. Baik yang tertulis maupun yang di tutupi.

Mari berbenah diri, demi negeri yang kita cinta, demi negeri yang mesti kita jaga Alamnya, keragamannya, dan Nilai-nilai persatuan dan kesatuannya. Demi terlepas dari bentuk penjajahan dan penindasan modern.

Mari berbuat sesuatu yang baik untuk warisan generasi selanjutnya.

(Visited 1 times, 1 visits today)

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *