3 Hewan Endemik Kalimantan yang Semakin Terancam Jika Ibu Kota Pindah

OhGreat.id – Presiden Joko Widodo sudah memastikan secara bertahap akan memindahkan ibu kota Indonesia ke Kalimantan. Meski yang pindah hanya aspek administratif, namun proyek pembangunan pulau berjuluk paru-paru dunia tersebut sepertinya digarap serius.

Pemerintah memang menjanjikan skema pembangunan ibu kota akan berselaras dengan alam dengan konsep Green City. Namun, akan semakin masifnya aktivitas manusia di Kalimantan berpotensi mengancam kelangsungan ekosistem alam yang hari ini pun sudah rusak.

Seperti diketahui, Kalimantan kaya akan flora dan fauna eksotis yang jarang ditemui di belahan dunia lain. Terutama spesies hewan endemik yang eksklusif hanya bisa dilihat di tanah Borneo.

Bersamaan dengan itu pula, deforestasi semakin hari semakin marak terjadi di Kalimantan. Pembukaan lahan sawit dan pemukiman jadi dua aspek yang membuat semakin menipisnya vegetasi di sana. Soal fauna, ancaman terbesar selain deforestasi adalah perburuan liar yang masih terjadi hingga hari ini.

Berikut 3 Hewan Endemik Kalimantan yang Semakin Terancam Punah

Orangutan
Salah satu binatang paling terkenal di dunia ini sudah sejak lama masuk kategori terancam. Memang, selain di Kalimantan, hewan ini juga bisa ditemui di Sumatra. Berdasarkan daftar spesies terancam yang dirilis IUCN (International Union for Conservation of Nature), orang utan termasuk kategori critically endangered. Dari delapan tingkatan, orangutan menempati peringkat keenam daftar aman.

Artinya, hanya dua strip di atas pernyataan punah. Masih menurut catatan IUCN, penurunan jumlah orangutan mencapai 82 persen selama 75 tahun terakhir. Sementara itu, catatan Lifegate menyebutkan, sejak 1973 hingga 2016, penurunan populasinya menurun drastis dari 288.500 menjadi sekitar 100.000 ekor.

Perburuan, serta pembukaan lahan menjadi salah satu faktor terbesar yang semakin mengurangi jumlah hewan ramah ini. Bisa dibayangkan jika ibu kota benar-benar dipindahkan, nasib orangutan semakin terancam jika tidak ada keseriusan menanganinya.

Bekantan
Daftar yang dikeluarkan IUCN mencatat bahwa bekantan ada satu tingkat lebih aman dibandingkan orangutan. Jika orangutan ada di kategori critically endangered, bekantan hanya berlabel endangered.

Namun, tetap saja ini bukan kabar baik bagi kelangsungan satwa endemik, asli dari Kalimantan. Penurunan jumlah bekantan tidak kalah dengan orangutan. Selama 40 tahun terakhir, populasinya terus menurun sebanyak 50 persen.

Penyebabnya kurang lebih sama. Pembalakan hutan, pembukaan lahan, hingga perburuan liar. Masih banyak yang menganggap daging bekantan memiliki khasiat pengobatan. Terutama obat-obat tradisional China.

Kucing Merah
Kucing Merah, atau juga sering disebut kucing Teluk Borneo. Merupakan jenis kucing yang menghindari kehadiran manusia. Terbukti, hingga saat ini belum banyak kajian ilmiah yang membahas.

IUCN menempatkan kucing merah ke dalam kategori endangered. Hewan satu ini juga jarang ditemukan penampakkannya. Beberapa terjadi di sejumlah tempat seperti Taman Nasional Gunung Palung dan Sungai Kapuas.

Kucing merah sangat bergantung pada keberadaan pohon. Tidak heran jika deforestasi yang menjangkiti Kalimantan sejak puluhan tahun, juga ikut andil dalam penguranan hewan ini. Laporan populasi terakhir didapat pada 2002, yang mana sekitar 2.500 ekor kucing merah masih berkeliaran di seluruh tanah Borneo.

(Visited 13 times, 1 visits today)

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *